| Ditulis Oleh: Habib Munzir Almusawa | |
|
Makna Kalimat بسم الله
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ،
وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ. (صحييح البخاري)
Dari aisyah ra berkata : “Bahwa Nabi SAW menyukai mendahulukan yang
kanan dari kiri, saat beliau memakai sandal, saat beliau menyisir, saat
beliau bersuci, dan dari segala perbuatannya” (Shahih Bukhari) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي
الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ
بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur,
Yang Maha melimpahkan cahaya kepada alam semesta hingga berpijar dan
terang benderang, alam semesta ini akan gelap gulita jika tidak Allah
limpahkan cahaya kepadanya, dari cahaya keindahan Allah subhanahu
wata’ala, dari cahaya kewibawaan Allah, yang mana telah membuat lebur
gunung disaat satu tabir dari 70 ribu tabir yang menutupi antara Sang
Pencipta dengan seluruh makhluk itu disingkap, sebagaimana yang
disebutkan dalam Alqur’an, firman Allah subhanahu wata’ala ketika nabi
Musa meminta untuk melihat Allah subhanahu wata’ala:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ
أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى
الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا
تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا
فَلَمَّا أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ
الْمُؤْمِنِينَ (الأعراف : 143 )
“Dan ketika Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu
yang telah Kami tentukan dan Tuhannya telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, tampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar aku dapat melihatMu". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali
tidak akan sanggup melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu, jika ia
tetap pada tempatnya, niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya
menampakkan (keindahanNya) kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu
hancur lebur dan Musa pun terjatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar
kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertobat kepadaMu dan aku
adalah orang yang pertama-tama beriman".( Al A’raf : 143 )Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa gunung itu hancur lebur dan terpendam ke dalam bumi dan tidak akan muncul selama-lamanya hingga akhir zaman. Diriwayatkan dalam tafsir Al Imam At Thabari, ketika malaikat Jibril bertanya kepada nabi Musa apakah ia ingin melihat Allah subhanahu wata’ala, maka nabi Musa As pun mengiyakannya. Maka sebelum Allah subhanahu wata’ala menyingkap satu tabir dari 70 ribu tabir , Allah subhanahu wata’ala memanggil seluruh malaikat yang ada, malaikat penjaga gunung, malaikat penjaga lautan, dan lainnya serta seluruh kekuatan yang ada dan segala-galanya didatangkan, maka sayyidina Musa As bergetar melihat hal itu dan berkata : “Cukup wahai Jibril, cukup jangan dilanjutkan”, maka malaikat Jibril berkata : “Tenanglah wahai Musa dan bertahanlah, sungguh engkau akan menyaksikan hal yang lebih dahsyat daripada itu”. Lalu ketika itu Allah subhanahu wata’ala membuka langit yang kedua, sehingga terlihatlah gemuruh malaikat yang bertasbih dan berdzikir dimana mereka mengelilingi nabi Musa As sehingga membuat nabi Musa kebingungan dan ketakutan menyaksikan banyaknya malaikat-malaikat dan pijaran-pijaran cahaya yang muncul dari gemuruh dzikir-dzikir mereka, maka nabi Musa As berkata : “Tenanglah wahai Musa dan bertahanlah, engkau akan menyaksikan sesuatu yang lebih dahsyat dari hal ini”, lalu dibukalah langit yang ketiga, dimana sesuatu yang terlihat di langit ketiga jauh lebih dahsyat dari hal-hal yang dilihatnya di langit yang pertama dan langit yang kedua, dimana gemuruh dzikir malaikat-malaikat itu mengalahkan gemuruh ombak dan gelombang di lautan, maka malaikat Jibril kembali berkata : “Tenanglah dan bertahanlah wahai Musa, engkau akan menyaksikan hal yang lebih dahsyat dari hal ini”, kemudian Allah subhanahu wata’ala membuka langit yang keempat maka nabi Musa pun hampir terjatuh roboh dari dahsyatnya sesuatu yang ia lihat di langit yang keempat dari dahsyatnya gemuruh tasbih dan dzikir para malaikat, nabi Musa As pun gemetar menyaksikan hal tersebut, lantas malaikat Jibril kembali menenangkannya dan berkata bahwa ia kan menyaksikan hal yang lebih dahsyat lagi, Allah subhanahu wata’ala masih akan membukakan langit yang kelima, keenam, dan ketujuh, maka nabi Musa pun roboh lantas diberdirikan oleh malaikat Jibril dan kembali menenangkannya, maka nabi Musa pun melihat keajaiban-keajaiban di langit kelima, keenam dan ketujuh, kemudian nabi Musa pun roboh tidak mampu lagi bertahan. Tujuh puluh ribu ribu tabir yang menutupi rahasia cahaya Allah subhanahu wata’ala, yang dijadikannya seluruh alam semesta ini bercahaya, yang menjadikan jiwa hamba-hambaNya bercahaya, hingga jiwa hamba-hambaNya ingin bersujud dan memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah terjadi di masa lalu dan dosa-dosa yang akan datang. Sebagaimana kita terus terperangkap di dalam kegelapan dosa, dosa adalah kegelapan sedangkan perbuatan baik dan pahala adalah cahaya keridhaan Allah subhanahu wata’ala, sedangkan dosa adalah kegelapan yaitu kemurkaan Allah subhanahu wata’ala. Maka ketika Allah subhanahu wata’ala melimpahkan cahaya untuk menerangi hati manusia sehingga mereka ingin bertobat dan menyesal dari segala dosa yang telah mereka perbuat, namun diantara mereka malu dan berputus asa serta merasa bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak akan mungkin mengampuni dosa-dosanya, maka orang yang demikian ingatlah firman Allah subhanahu wata’ala :
قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا
مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ
هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (الزمر : 53 )
“Katakanlah: "Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri
mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ( QS. Az Zumar : 53 ) Demikianlah Yang Maha lembut dan berkasih sayang, sungguh besar kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya dan kasih sayangNya yang paling besar adalah sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, rahmatan lil’aalamin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pemimpin seluruh pembawa cahaya di dunia dan akhirat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang paling bercahaya di dunia dan di akhirat, akan tetapi Allah subhanahu wata’ala tidak memperlihatkan cahaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia, namun akan diperlihatkan kelak di akhirat. Sehingga kelak di hari kiamat, jangankan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, para pengikut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dari para shalihin, para wali Allah dan para muqarrabin ketika mereka melintasi shiraat (jembatan), maka neraka jahannam menjerit dan berkata : “segeralah melintas wahai hamba-hamba Allah, cahaya kalian membakarku”, cahaya itu adalah cahaya tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, cahaya sujud kepada Allah subhanahu wata’ala, cahaya air mata doa, cahaya penyesalan atas segala perbuatan dosa yang telah lalu. Ingatlah bahwa malaikat di kiri kanan seorang hamba senantiasa mencatat perbuatannya dalam setiap detiknya, detik-detik yang terlewati tidak akan pernah kembali selama-lamanya, maka sebelum terlambat dan sebelum sakaratul maut menjelang, kembalilah kepada Allah dan ikutilah tuntunan, pedoman dan budi pekerti sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang mana akan menjadi lentera dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Hadirin yang dimuliakan Allah Hadits agung yang kita baca menjelaskan bahwa diantara tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah menyukai “Tayamun” yaitu mengawali sesuatu dengan bagian kanan, seperti disaat memakai sandal, menyisir rambut, dan dalam bersuci serta dalam segala perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun dalam hal ini ada pengecualian, sebagaimana Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani berkata di dalam Fath Al Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut bukanlah segala hal yang diperbuat oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diawali dari bagian kanan, akan tetapi terdapat hal yang diperbuat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diawali dari bagian sebelah kiri seperti keluar dari masjid, atau keluar dari kamar mandi maka mendahulukan kaki yang kiri. Hal ini merupakan tuntunan yang sempurna, sebagaimana dalam ilmu kedokteran membuktikan bahwa darah terlebih dahulu mengalir dari jantung ke bagian kanan, meskipun jantung berada disebelah kiri, sehingga aliran darah mengalir lancar di bagian kanan, sedangkan di bagian kiri aliran darah melemah disebabkan darah telah membawa sel-sel dan bakteri dari bagian kanan. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hal selalu memulainya dengan bagian kanan, karena bagian kanan lebih kuat daripada bagian kiri, sebab darah terlebih dahulu mengalir ke bagian kanan, hal ini menunjukkan kesempurnaan tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, meskipun hadits tersebut tampaknya sangat ringkas dan sederahana, yaitu memulai setiap perbuatan dengan bagian kanan, seperti ketika memakai sandal maka dimulai dari bagian yang kanan, ketika menyisir rmabut maka dimulai dari bagian yang kanan. Jika ada yang mengatakan zaman sekarang kok hal-hal yang seperti ini yang dipelajari, orang-orang udah pada sampai ke bulan kok ini masih kitab aja yang diotak-atik”, namun saat ini telah terbukti bahwa orang yang mengatakan pernah sampai ke bulan itu adalah sebuah kedustaan sebagaimana yang dikatakan oleh para Ilmuwan, dimana jika dilihat dari gambar tersebut akan tampak dari dua arah, yang berarti dari cahaya dua lampu dari sudut yang berbeda, maka hal itu adalah kebohongan yang direkayasa. Justru tuntunan sang nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam inilah yang merupakan kemodernan, maka hal-hal seperti inilah yang seharusnya untuk kita perhatikan dan kita ikuti tuntunannya.
Syarah Kitab Ar Risaalah Al Jaami’ah Karangan Al Imam Ahmad Bin Zain Al Habsyi
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيْهِ بِاسْمِ اللهِ فَهُوَ أَبْتَر
“ Segala sesuatu (perbuatan) baik yang tidak diawali dengan “
Basamalah”, maka (amal itu) terputus (tidak bernilai di sisi Allah)” Dan dalam riwayat lain فَهُوَ أَقطع (terpotong dari keberkahan) , dan dalam riwayat yang lainnya فَهُوَ أجذم (terpotong tangannya ). Di zaman sekarang jika bukan karena kasih sayang dan kelembutan Allah subhanahu wata’ala sungguh berapa banyak orang-orang yang akan terpotong karena terkena penyakit kusta, sebagaimana memulai banyak pekerjaan tanpa diawali dengan “Basmalah”, seperti ketika masuk rumah, keluar rumah, ketika akan tidur, bangun tidur, makan, minum dan lainnya. Lalu seseorang akan berkata, rumahku kemasukan syaitan, maka hal ini adalah hal yang biasa karena ketika akan masuk ke dalam rumah ia tidak mengucapkan “Basmalah”, dimana ketika seseorang masuk rumah tidak membaca “Basmalah” maka syaitan pun akan masuk bersamanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Ketika kalian akan tidur, maka tutuplah pintu dan ucapkan Basmalah, sesungguhnya syaitan tidak dapat memasuki pintu yang terkunci”, karena pintu itu terkunci dengan “Bismillahirrahmanirrahim”, sehingga syaitan tidak bisa masuk meskipun dengan cara menembus pintu yang terkunci itu. Oleh karena itu perbanyaklah mengucapkan Basmalah dalam setiap perbuatan, sungguh “Basmalah” adalah kalimat yang agung dan luhur. Lafazh بِسْمِ telah kita bahas dalam mejelis-majelis yang lalu. Adapun lafazh الله , yang terdiri dari huruf alif ( ا ) yang bermakna tunggal , lam ( ل ) yang berarti “Lillah” ( لِله ) yaitu milik Allah, kemudian tersisa huruf “lam dan ha’ ( ل، هـ ) yaitu ( لَهُ ) yang bermakna “milikNya, milik Allah, atau untuk Allah”, dan huruf yang terakhir adalah huruf ha’ ( ــهُ ) sebagaimana yang banyak diajarkan oleh para ulama’ kepada murid-muridnya dzikir dengan lafazh ( ـهُ ) atau يا هو . Demikianlah keagungan lafazh ( الله) , dimana kita semua tidak pantas untuk menterjemahkannya. Kemudian penjelasan lafazh ( الرحمن) insyallah kita lanjutkan di majelis yang akan datang.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
....Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ
إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ
إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ
السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا
نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ
تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ
|
Tampilkan postingan dengan label Habib Mundzir Al Musawa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib Mundzir Al Musawa. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 20 April 2013
Penjelasan Kitab Arrisalatul Jami'ah Bagian V Makna Kalimat بسم الله
Kamis, 04 April 2013
Keutamaan Doa Masuk Toilet
Minggu, 31 Maret 2013
Mendahulukan Bagian Yang Kanan
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Sunday, 23 September 2012 | |
Senin, 17 September 2012
عن عائشة رصي الله عنها: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ،
وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ،
(صحيح البخاري)Dari Aisyah Ra: Bahwa Nabi SAW menyukai memulai dengan bagian yang kanan, dalam memakai sandalnya, dalam menyisir rambutnya, dalam bersucinya, dan dalam gerak-geriknya” (Shahih Bukhari) Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ
اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي
الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ
بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur,
Yang Maha melimpahkan kebahagiaan dan Maha mencabutnya, Yang Maha
Memiliki dan Memberi kenikmatan serta Maha berhak mengambilnya. Dialah
Allah subhanahu wata’ala dimana semakin mendekat seorang hamba kepadaNya
maka semakin dekatlah ia kepada Sang Maha Memilki segala ketentuan dan
kejadian, dan semakin seorang hamba memiliki niat untuk mendekat
kepadaNya maka niat tersebut menjadi bekal untuk tumbuhnya kasih sayang
dan ridha Allah untuknya, semoga niat-niat luhur itu senantiasa tumbuh
di dalam sanubari kita di setiap hari-hari kita, apalah arti kehidupan
ini jika di hati tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Allah
subhanahu wata’ala . Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi :مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَائِيْ كَرِهْتُ لِقَاءَهُ “Barangsiapa yang rindu perjumpaan denganKu, maka Aku rindu perjumpaan dengannya, dan barangsiapa yang membenci perjumpaan denganKu maka aku membenci perjumpaan dengannya” Beruntunglah mereka yang ingin berjumpa dengan Allah hingga lewatlah hari-harinya dengan kerinduan, dan dalam catatan amalnya tercatat bahwa ia dalam kerinduan kepada Allah di siang dan malamnya, meskipun sesekali ia terjebak di dalam perbuatan dosa, namun Sang Maha Penyelamat mampu dan siap menyelamatkannya di setiap waktu dan kejap, serta siap mengampuni dosa-dosanya di setiap waktu, dan pengampunan itu akan didahulukan untuk hamba-hambaNya yang senantiasa ingin mendekat kepadaNya. Sebaliknya manusia akan terlewat hari-harinya dalam kehinanaan meskipun berada dalam kebahagiaan atau kenikmatan namun tidak ada keinginan dalam dirinya untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka setiap nafas mereka akan terus mendekatkan mereka kepada kemurkaan Allah dan siksa Allah yang pedih, wal’iyadzubillah. Kehadiran kita di majelis ini merupakan undangan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada kita untuk mendekat kepadaNya dan mencapai pengampunanNya, mencapai keridhaanNya. Sebagaimana di saat ini kita berada dalam kebahagiaan dan kenikmatan, tersenyum karena berada dalam anugerah Allah subhanahu wata’ala, namun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita di hari esok. Banyak diantara kita yang saat ini berada dalam keluasan harta dan dalam keadaan sehat, namun dalam beberapa detik hal itu bisa saja berubah dan sirna sebab penyakit stroke yang dengan sekejap Allah subhanahu wata’ala mencabut kebahagiaan dan harta yang dimilikinya. Maka beruntung bagi yang dekat kepada Sang Maha Pemilik kenikmatan, yang barangkali mereka mendapatkan musibah atau dalam kesedihan, namun karena ia dekat dekat Yang Maha Mampu menyelesaikan setiap musibah dan kesedihannya, maka mereka akan segera mendapatkan kemudahan dan pertolongan atas musibah atau permasalahanya lebih dahulu dari mereka yang tidak dekat denganNya. Sebagian orang berkata jika seseorang semakin dekat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka akan semakin banyak mendapatkan musibah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلاَهُ
“ Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia (Allah) akan menimpakan cobaan baginya”Namun cobaan tidak senantiasa berupa kesedihan atau musibah, akan tetapi meskipun cobaan tersebut berupa musibah atau kesediahan namun kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka jauh lebih mulia dari cobaan tersebut. Sebagaimana kita ketahui bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya disakiti dan dikejar-kejar untuk dibunuh, beliau juga mengikat perutnya dengan batu karena tidak makan selama beberapa hari, serta banyak peristiwa-peristiwa sulit yang dulu dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun disamping itu beliau lah satu-satunya manusia yang diberi kemapuan oleh Allah untuk mengalirkan air dari jari-jari mulia beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disaat manusia kehausan dan tidak mendapatkan air, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sahabat untuk membawa bejana besar, kemudian beliau meletakkan tangan beliau di dalam bejana tersebut dan mengalirlah air dari jari-jari tangan mulia beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memerintah semua orang untuk minum dan berwudhu dari air tersebut, dimana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang dan teriwayatkan dalam hadits :
لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ لَكَفَنَا
“ Jika ketika itu (jumlah) kami 100.000, niscaya mencukupi kami”Dan ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dihina dan dilempari batu oleh musuh-musuhnya hingga kaki beliau berlumur darah, maka Allah subhanahu wata’ala mengutus malaikat untuk menolong beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengangkat gunung dan menimpakan kepada ummat yang telah menyiksa beliau shallalahu ‘alaihi wasallam, sehingga musnahlah semua umat tersebut namun beliau menolak hal itu dan memilih bersabar, dan beliau berkata jika mereka tidak beriman barangkali kelak ada diantara keturunan mereka yang akan beriman, adakah manusia yang bersabar dan berlemah lembut terhadap musuh melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih memikirkan kebaikan untuk anak-anak dan keturunan musuh-musuhnya, hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang makhluk pun di muka bumi ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian mulia dan indahnya akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin yang dimulikan Allah Selanjutnya hadits yang kita baca di malam hari ini, yang tampaknya adalah hal yang ringan dan biasa akan tetapi hal tersebut justru menunjukkan mukjizat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hal dan perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, namun yang akan kita bahas adaalah secara ilmu kesehatan, dimana menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang mana tuntunan-tuntunan beliau sesuai dengan ilmu kesehatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak perbuatannya senantiasa mendahulukan bagian anggota yang kanan, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan dengan menukil ucapan Al Imam An Nawawi bahwa ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “ وفي شأنه كله (dalam segala perbuatannya)” menunjukkan kalimat ‘aam makhsuus (kalimat umum yang dikhususkan), yang mana tidak semua perbuatan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan dimulai dari anggota yang kanan, sebagaimana banyak perbuatan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dengan anggota yang kiri, seperti ketika masuk ke dalam kamar mandi, atau ketika keluar dari masjid, dan lainnya. Namun kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang beliau mulai dengan anggota yang kanan, mengapa hal tersebut beliau lakukan?. Dijelaskan dalam ilmu kedokteran bahwa darah dari jantung yang mengalir ke seluruh tubuh terlebih dahulu mengalir di bagian anggota yang kanan, lalu mengalir ke bagian tubuh yang kiri kemudian kembali ke jantung. Sehingga darah yang mengalir pada anggota tubuh bagian kiri telah melewati anggota tubuh bagian kanan dan membawa kotoran atau racun-rancu untuk kemudian dibawa ke jantung. Hal ini menunjukkan jika seseorang melakukan perbuatannya dengan mendahulukan anggota yang kiri, maka keadaan kesehatan tubuhnya akan menjadi buruk karena kekuatan tubuh lebih kuat di anggota yang kanan, dikarenakan darah mengalir terlebih dahulu di anggota tubuh bagian kanan, meskipun posisi jantung terletak di sebelah kiri. Oleh sebab itu anggota sebelah kiri seharusnya lebih diberi kesempatan untuk beristirahat daripada bagian tubuh yang sebelah kanan, karena anggota bagian kiri mendapatkan pasokan darah yang telah bercampur dengan banyak kotoran yang dibawa dari anggota bagian kanan. Dan jika diteliti aliran darah yang mengalir di anggota bagian kanan mengalir sangat deras, namun aliran darah di anggota sebelah kiri mengalir lambat dan warna telah berubah karena telah bercampur dengan kotoran yang dibawa dari anggota bagian kanan. Dari sini kita fahami sungguh indah dan modern tuntutan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Hadirin yang dimuliakan Allah Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah, dan bulan ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi pada tahun 5 H yaitu kejadian perang Khandaq atau perang Ahzab.Dimana di saat itu Madinah dikepung oleh qabilah-qabilah sekitar Madinah yang dipimpin oleh kuffar quraisy, yang bertujuan untuk memerangi muslimin dan membunuh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam kitab Sirah bahwa jumlah mereka yang mengepung Madinah adalah 10.000 orang, dan 100 orang dari mereka adalah para tentara handal yang mempunyai keahlian dan dengan persenjataan yang lengkap, dan jumlah kaum muslimin di saat itu adalah 300 orang pria dan yang lainnya adalah kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang tua yang lemah. Ketika mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah kaum muslimin untuk menggali parit atau seperti saluran aliran, yang mana hal itu adalah perintah dari Allah subhanahu wata’ala. Maka disaat penggalian parit itu, terdapat sebuah batu yang tidak dapat dihancurkan meskipun dengan segala kekuatan yang dimiliki seluruh penduduk Madinah. Kemudian mereka menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil martil dan memukulkannya pada batu tersebut, namun hanya berpijar cahaya dan tidak bergerak dari posisi semula, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memukulkan palu itu untuk kedua kalinya, akan tetapi terjadai hal yang sama dan hanya memancarkan cahaya yang kuat dari batu itu, kemudian palu itu dipukulkan lagi untuk yang ketiga kalinya hingga batu pun hancur. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa pijaran cahaya yang pertama beliau diperlihatkan anugerah-anugerah Allah subhanahu wata’ala dan pijaran cahaya yang kedua beliau diperlihatkan kekuatan-keuatan romawi dan kemenangan muslimin. Hal itu diperlihatkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menenangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para shabat untuk menenangkan diri mereka, bahwa kemenangan akan diraih oleh kaum muslimin. Maka para sahabat pun menenangkan diri mereka sambil melantunkan qasidah, sebagaimana teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari:
نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْا مُحَمَّدًا عَلَى الْإِسْلاَمِ مَا بَقِيْنَا أَبَدََا
“ Kamilah yang telah membai’at Muhammad (berpegang) kepada Islam sepanjang hidup kami”Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
اَللّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهُاجِرَةِ
“ Wahai Allah, sesungguhnya kehidupan yang sejati adalah kehidupan akhirat, ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin”Maka membaca qasidah dengan bersautan adalah hal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sejak tahun 6 H yang silam. Kemudian di saat itu, datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana sahabat tersebut terkenal dengan seorang yang memiliki strategi yang handal dan pandai mempengaruhi, berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkalah aku untuk mendatangi kaum Yahudi dan qabilah-qabilah yang akan mengepung Madinah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengizinkannya karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa ia tidak akan terpengaruhi oleh orang quraisy dan qabilah-qabilah lainnya. Setelah ia menemui kelompok yahudi ia berkata : “ Wahai kaum Yahudi, apa yang akan diberikan kaum quraisy kepada kalian sehingga kalian bergabung dengan mereka untuk memerangi nabi Muhammad?”, maka mereka menjawab : “Kami tidak mendapatkan apa-apa dari kaum quraisy”, ia kembali berkata : “Ketahuilah, bukan harta yang harus kalian minta dari orang quraisy, akan tetapi mintalah beberapa orang quraisy untuk dijadikan jaminan kepada kaum muslimin agar kalian dibebaskan dan tidak dibantai dan dijadikan budak oleh kaum muslimin jika ternyata kaum quraisy kalah”, mendengar hal tersebut, orang yahudi pun mulai berfikir sehingga mereka pun meminta kepada orang quraisy beberapa orang dari kaum mereka untuk dijadikan jaminan. Akhirnya ucapan itu pun tersebar dikalangan Yahudi yang lainnya, sehingga mulailah orang Yahudi berpecah belah dan memisahkan diri dari kaum quraisy serta tidak memerangi kaum muslimin bersama kaum quraisy. Namun masih banyak qabilah dan kelompok yang masih bertahan untuk tetap memerangi nabi Muhammad dan pengikut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga pengepungan berlangsung dan kaum muslimin dalam keadaan yang sangat sulit karena pasokan sandang pangan tidak dapat masuk ke Madinah. Di sore harinya seorang terkuat dari kalangan quraisy yaitu ‘Amr bin Abd Wud berteriak dan memanggil penduduk Madinah serta menantang kaum muslimin untuk mengeluarkan orang terkuat kaum muslimin agar beradu dengannya sebelum peperangan di mulai, maka di saat itu sayyidina Ali bin Abi Thalib berdiri untuk menghadapinya, dan ketika itu usia beliau masih sangat muda, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahannya agar tidak terbawa amarah dan mengingatkan sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa laki-laki itu adalah ‘Am bin Abd Wud, orang terkuat kaum quraisy, bukan berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam takut untuk menghadpainya, akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sayyidina Ali untuk tidak terbawa emosi, kemudian Amr bin Abd Wud kembali berteriak dan menantang kaum muslimin, maka sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk menghadapinya”, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sayyidina Ali bin Abi Thalib merasa tenang dan tidak dalam emosi, maka beliau pun mengizinkan sayyidina Ali bin Abi Tahlib. Namun ketika sayyidina Ali bin Abi Tahlib keluar dan akan menghadapi Amr bin Abd Wud, ia berkata : “Wahai Ali engkau adalah anak muda dan ayahmu adalah temanku maka aku tidak mau beradu denganmu, biarkan orang lain yang melwanku”, lalu sayyidina Ali berkata : “Demi Allah, aku akan membunuhmu jika engkau tidak mau masuk Islam”, mendengar hal itu ‘Amr bin Abi Hud pun marah dan mulailah pertarungannya dengan sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, yang mana tidak beberapa lama Amr bin Abd Wud dikalahkan dan terbunuh oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib. Adapun di saat itu pemimpin quraisy adalah Abu Sufyan yang merupakan orang terkuat di kalangan quraisy serta memiliki banyak tentara perang yang kuat dan juga memiliki harta yang banyak. Maaka di saat itu, di malam harinya Allah subhanahu wata’ala mengirim angin dahsyat yang bertiup di sekitar kota Madinah, namun angin tersebut tidak turun di Madinah. Melihat angin kencang yang tiada berhenti, Abu Sufyan mulai merasa risau dan kebingungan, sebab dia adalah orang yang mempunyai onta dan harta terbanyak, jika angin kencang itu tidak berhenti dan onta-onta akan terlepas dari ikatannya kemudian kabur, maka bagaimana ia akan membawa harta-hartanya. Kemudian ia memutuskan untuk memerintah para prajuritnya membongkar kemah-kemah dan kembali ke Makkah untuk menyelamatkan harta-hartanya. Dan ketika pagi menjelang tidak seorang pun dari kaum quraisy tersisa di Madinah Al Munawwarah. Demikian pertolongan Allah untuk hamba-hambaNya yang senantiasa dalam ketabahan dan kesabaran. Selanjutnya kita bermunajat bersama semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga kota Jakarta dan penduduk muslimin di wilayah ini selalu dalam kedamaian, serta dijauhkan dari gangguan-gangguan tangan yang ingin merusak dan merubah wilayah ini dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kemenagan kepada kaum muslimin sebagaimana kemenangan yang terjadi pada kaum muslimin di perang Ahzab , amin allahumma amin.
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا
Ucapkanlah bersama-sama
يَا الله...يَا الله... ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم ...لاَإلهَ
إلَّاالله...لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ...لاَ إِلهَ
إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ...لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ
السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ...مُحَمَّدٌ
رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا
نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ
تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ.
|
Bershalawat Kepada Nabi Muhammad SAW
| Ditulis Oleh: Munzir Almusawa | |
| Monday, 18 February 2013 | |
Senin, 18 Febuari 2013
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا (رواه مسلم)
“ Dari Abi Hurairah Ra, sesungguhnya Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda : Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu
kali, maka Allah bershalawat kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh
kali ”. ( HR. Muslim )Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ
خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ
وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ
اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا
لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ
عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا
الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي
الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ
بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ
وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Tunggal
dengan keabadian , Tunggal dengan kesempurnaan, Maha Tunggal menciptakan
kerajaan alam semesta dan menghamparkannya dari tiada, Yang Maha
memunculkan keluhuran-keluhuran bagi hamba-hambaNya di dunia dan di
akhirat, keluhuran dunia yang fana dan keluhuran akhirat yang abadi, dan
semua ciptaan Allah telah diisi dengan segala kenikmatan. Sebagaimana
Allah subhanahu wata’ala menciptakan air maka Allah simpan sedemikian
banyak kenikmatan pada air itu, diantaranya air tersebut sebagai
penghilang haus dan dahaga, sebagai pencuci dan pensuci (bersuci),
sebagai tempat kehidupan hewan-hewan air, sebagai pemandangan yang indah
dan lain sebagainya dari manfaat-manfaat yang Allah ciptakan dalam air
tersebut. Demikian pula Allah subhanahu wata’ala menciptakan api,
diantara manfaat api adalah untuk memasak, memanaskan, menghangatkan,
dan lain sebagainya dari hal-hal yang bermanfaat dari penggunaan api
tersebut.Kemudian Allah subhanahu wata’ala menciptakan tanah dan menumbuhkan bermacam-macam tumbuhan di atasnya yang menghasilkan berbagai macam buah-buahan yang mana memiliki manfaat yang berbeda-beda, menumbuhkan sayur-sayuran dan pepohoan yang dapt digunakan uga untuk berteduh dan lainnya. Lalu Allah subhanahu wata’ala menciptkan hewan-hewan yang memiliki manfaat yang bermacam-macam, sehingga terkadang ada hewan yang nampaknya tidak bermanfaat namun kenyataannya justru hewan tersebut membawa manfaat yang besar, sebagaimana yang kita ketahui bahwa cairan yang paling manis adalah madu padahal asal mula madu adalah dikeluarkan oleh serangga, begitu juga kain yang paling bagus dan paling mahala dalah sutera padahal asal mulanya terbuat dari ulat, adapun minyak wangi yang paling mahal adalah misk padahal asal mulanya berasal dari bagian darah kijang, demikian banyak hal-hal yang berharga dan dimuliakan di muka bumi ini ternyata berasal dari hal-hal yang hina. Dan Allah subhanahu wata’ala juga menjadikan dalam ciptaan-ciptaanNya itu terdapat mudharat (bahaya), seperti air yang dapat membawa musibah, bakteri , penyakit dan lain sebagainya, begitu juga pada ciptaan yang lainnya seperti api, tanah, gunung-gunung, pepohonan, udara, kesemua ciptaan itu dapat juga membawa musibah selain juga membawa manfaat. Kemudian Allah subhanahu wata’ala mengutus sang Rahmatan Lil’alamin, sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang membawa rahmat bagi sekalian alam semesta, yang kemudian Allah menjadikan banyak hal yang tadinya akan membawa musibah dari ciptaan-ciptaan Allah subhnahu wata’ala, berubah menjadi membawa manfaat. Sehingga hanya dengan dzikir-dzikir yang sepertinya sangat remeh dan tidak berartipun hal itu justru dapat menghindatkan seseorang dari musibah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Shahih Muslim bahwa seorang sahabat mengadu bahwa ia telah tersengat kalajengking, maka Rasulullah shallallah ‘alaihi wasallam berkata : “ Jika engkau membaca doa :
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“ Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang mulia dan sempurna dari kejelekan yang diciptakan”
Sebanyak tiga kali di pagi hari dan tiga kali sore hari, maka sungguh engkau tidak akan ditimpa bahaya apa pun. Demikian rahasia kemuliaan dari tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Selanjutnya hadits riwayat Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرًا ( رواه مسلم )
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah bershalawat
kepadanya ( melimpahkan rahmat) sepuluh kali”. ( HR. Muslim)
Adapun shalawat Allah kepada hamba-hambaNya adalah bahwa Allah melimpahkan rahmat kepada mereka. Sedangkan shalawat dari malaikat adalah bahwa malaikat memohonkan pengampunan dosa-dosa untuk hamba kepada Allah subhanahu wata’ala. Adapun shalawat dari manusia adalah berupa doa dan munajat kepada Allah subhanahu wata’ala agar menambahkan kemuliaan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, makhluk yang paling dicintai Allah subhanahu wata’ala. Maka dari hadits tersebut terbukalah rahasia keagungan cinta Allah subhanahu wata’ala kepada orang-orang yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan Allah subhanahu wata’ala berfirman :
إِنَّ اللَّهَ
وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ( الأحزاب : 56 )
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi.
Wahai orang-orang yang beriman, bersalawatlah kalian untuk Nabi dan
ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. ( QS. Al Ahzaab : 56 )
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang yang bershalawat kepadanya sekali maka Allah akan bershalawat kepadanya (melimpahkan rahmat) sepuluh kali. Sungguh ribuan shalawat dari kita tidak berarti dibanding dengan shalawat Allah, bahkan jika seluruh alam semesta ini bershalawat maka hal itu tidak akan menyamai satu shalawat dari Allah subhanahu wata’ala. Dan disini Allah subhanahu wata’ala akan bershalawat sepuluh kali untuk orang yang bershalawat kepada nabi Muhammad shallalahu ‘alaihi wasallam satu kali. Hal ini menunjukkan sungguh besarnya sambutan Allah subhanahu wata’ala kepada yang mencintai sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, satu kali cinta seseorang kepada sang nabi maka Allah jawab dengan sepuluh kali cinta dari Allah subhanahu wata’ala. Jadi mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bukanlah perbuatan yang kultus atau syirik, namun mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah merupakan anugerah besar dan akan berlanjut dari hal itu limpahan anugerah yang lebih besar dari Allah subhnahu wata’ala di dunia dan di akhirat. Selanjutnya kita membahas kitab Ar Risalah Al Jami’ah karangan Al Imam Ahmad bin Zen Al Habsyi Ar, dan kita telah selesai dari pembahasan kalimat :
اَلْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ
Di malam ini kita akan membahas kalimat وَصَلَّى اللهُ “Washalla Allahu”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam :
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ
عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“ Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, Allah bers |
Langganan:
Postingan (Atom)

